
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan mahasiswa. Media sosial, yang awalnya diposisikan sebagai sarana komunikasi dan pertukaran informasi, kini menjelma menjadi ruang dominan yang menyerap perhatian, waktu, dan energi kognitif generasi muda. Di balik kemudahan akses dan hiburan yang ditawarkan, terdapat mekanisme algoritmik yang bekerja secara sistematis mengarahkan perilaku pengguna. Fenomena ini menimbulkan persoalan serius ketika algoritma tidak lagi sekadar memfasilitasi, tetapi mulai “menjajah” cara berpikir mahasiswa secara perlahan dan tidak disadari.
Algoritma Media Sosial dan Logika Ekonomi Perhatian
Algoritma media sosial merupakan sistem komputasional yang dirancang untuk menyeleksi dan menampilkan konten berdasarkan preferensi serta pola interaksi pengguna. Tujuan utamanya bukan peningkatan kapasitas intelektual, melainkan optimalisasi engagement agar pengguna bertahan selama mungkin di dalam platform. Dalam logika ekonomi perhatian (attention economy), waktu dan fokus pengguna adalah komoditas utama yang menghasilkan keuntungan. Akibatnya, konten yang disajikan cenderung bersifat adiktif, repetitif, dan emosional, bukan edukatif atau reflektif.
Kecanduan Digital dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa
Berbagai hasil riset menunjukkan korelasi positif antara intensitas penggunaan media sosial dengan meningkatnya risiko kecanduan digital. Pada mahasiswa, kondisi ini sering kali berimplikasi pada gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan, stres kronis, kelelahan emosional, dan penurunan kesejahteraan psikologis. Yang paling berbahaya, dampak tersebut kerap berlangsung tanpa disadari, karena penggunaan media sosial telah dinormalisasi sebagai bagian dari keseharian akademik dan sosial.
Manipulasi Emosi sebagai Strategi Algoritmik
Algoritma tidak bekerja secara netral. Ia cenderung memprioritaskan konten yang memicu respons emosional kuat, seperti rasa iri, kemarahan, ketakutan akan ketertinggalan (fear of missing out), atau ilusi kesuksesan instan. Paparan emosional yang berulang ini membentuk kondisi psikologis mahasiswa yang reaktif, mudah terprovokasi, dan rentan terhadap tekanan sosial. Dalam jangka panjang, situasi tersebut dapat mengikis kestabilan emosi dan kejernihan berpikir.
Ilusi Perbandingan Sosial dan Krisis Identitas
Salah satu dampak signifikan dari konsumsi media sosial yang berlebihan adalah kecenderungan membandingkan diri secara terus-menerus dengan representasi kehidupan orang lain. Padahal, konten yang tampil di media sosial umumnya merupakan versi terbaik dan terkurasi, bukan realitas yang utuh. Bagi mahasiswa, kondisi ini dapat memicu rasa tidak cukup, rendah diri, dan krisis identitas, terutama pada fase perkembangan diri yang masih mencari arah dan makna.
Penurunan Daya Konsentrasi dan Etos Akademik
Kebiasaan melakukan scrolling cepat dan konsumsi konten singkat berdampak langsung pada penurunan rentang perhatian (attention span). Mahasiswa menjadi lebih mudah bosan saat membaca teks panjang, sulit fokus dalam mengerjakan tugas akademik, serta rentan terdistraksi oleh notifikasi digital. Akibatnya, budaya berpikir mendalam, analitis, dan reflektif—yang seharusnya menjadi ciri utama insan akademik—perlahan mengalami degradasi.
Perubahan Pola Pikir: Dari Proses ke Instan
Paparan algoritmik yang terus-menerus juga membentuk pola pikir serba cepat dan instan. Mahasiswa menjadi kurang sabar terhadap proses intelektual yang membutuhkan waktu, ketekunan, dan pergulatan ide. Padahal, tradisi keilmuan justru menuntut kemampuan bertahan dalam ketidaknyamanan berpikir, membaca secara kritis, dan merefleksikan persoalan secara mendalam.
Media Sosial: Antara Alat dan Pengendali
Perlu ditegaskan bahwa media sosial tidak sepenuhnya bersifat destruktif. Ia dapat menjadi sarana belajar, jejaring akademik, dan penyebaran gagasan kritis. Persoalan muncul ketika mahasiswa kehilangan kesadaran bahwa waktu dan perhatiannya telah dikendalikan oleh algoritma. Tanpa kontrol diri dan literasi digital yang memadai, mahasiswa berpotensi menjadi objek pasif dalam sistem teknologi yang eksploitatif.
Mengembalikan Otonomi Pikiran Mahasiswa
Mengelola penggunaan media sosial merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan mental dan kemandirian berpikir. Mengurangi aktivitas scrolling yang tidak esensial serta memperbanyak interaksi nyata, diskusi intelektual, dan aktivitas reflektif adalah langkah strategis untuk melawan dominasi algoritma. Mahasiswa yang kritis bukanlah mereka yang sepenuhnya menolak teknologi, melainkan mereka yang mampu mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya—tidak dikontrol oleh algoritma, apalagi oleh logika materialistik di baliknya.